1. Exquisite Tweets from @glrhn, @ika_fairuza

    snydezCollected by snydez

    Hasilnya bikin senang. Setidaknya sebagian besar dari 790an (calon) orangtua tak terpatri pada pola pengasuhan jaman dulu.

    glrhn

    IG: r.galileo

  2. Missing tweet: 855039648598446080

  3. Being a parent is more like a suspension bridge. You have to be steel solid and strong. But, you have to be flexible as well. Adaptive.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Menjadi orangtua kan tujuannya agar bagaimana anak bisa hidup dengan baik dan benar bahkan ketika dia sudah tak memiliki orangtua.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Oleh karenanya, menjadi orangtua tak melulu soal memberikan perintah ini itu. Dan tak terpatri pada pola asuh jaman dahulu.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Salah satu contoh adalah penggunaan gawai (gadget) oleh anak. Secara khusus anak 5 tahun ke bawah. Kami menerima banyak cibiran.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    "Anak umur 3 tahun kok udah dikasih pegang hape?" Begitu kata mereka. Atau "Jangan kasih pegang hape, nanti malas."
    Jamak kami terima.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Ungkapan-ungkapan demikian kami terima dari -umunya- generasi Baby Boomers, yang ketika mereka masih balita, teknologi belum canggih.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Mereka baru mengenal kecanggihan teknologi ketika umur mereka menyentuh setengah abad. Bagi mereka, teknologi hanya untuk orang dewasa.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Namun mereka lupa bahwa perkembangan anak pun mau tak mau mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Di sini pentingnya menjadi adaptif.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Ketika saya kecil, teknologi yang saya kenal berupa konsol video game. Nintendo. Sega. Tapi saya diizinkan menggunakan keduanya sejak dini.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Tentu, ada syaratnya. Hanya boleh digunakan ketika sedang libur sekolah. Dan cara itu berhasil. Kami hanya bermain ketika libur.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Persyaratan yang diajukan oleh orangtua ini tentu adalah hasil kesepakatan bersama. Kedua belah pihak harus menuruti dan patuh.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Sekarang ketika saya menjadi orangtua, saya pun menerapkan hal yang sama kepada anak. Perbedaannya cuma satu: Teknologi sekarang lebih maju.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Jika dulu saya hanya mengenal konsol, sekarang anak saya mengenal konsol, gawai (dan berbagai konten di dalamnya), dan kemudahan komunikasi.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Sekarang fokus ke gawai. Anak-anak saya, senangnya menonton Youtube. Awalnya, mereka akan minta dicarikan video tentang kereta, misalnya.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Kenapa kami memutuskan untuk memperkenalkan gawai kepada mereka?
    1. Mereka hidup di jaman teknologi. Ini tak bisa dihindarkan.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Selayaknya alkohol, lebih baik bagi anak untuk mengenal teknologi di dalam rumah daripada memperolehnya di luar. Orangtua bisa memantau.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Alasan kedua: Untuk berjaga. Jika satu hal terjadi kepada kedua orangtuanya, anak kami masih bisa melakukan -setidaknya- panggilan telepon.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

    Kalian mungkin akan menertawakan. But it did happen. And we glad that we introduce gadget to our son.

    Reply Retweet Like

    glrhn

    IG: r.galileo

  4. Anakku bisa kenal warna, angka, huruf, bahasa Inggris ya dari gadget.

    Reply Retweet Like

    ika_fairuza

    IkaFairuza