1. Exquisite Tweets from @TogaMD

    snydezCollected by snydez

    Ustaz—demikian penulisan yang baku menurut KBBI—bukanlah istilah resmi dalam Islam.

    Sependek yang saya tahu, kata itu tak ada (atau setidaknya tak pernah diatur) dalam Al-Qur’an dan Hadis.

    Ia bahkan bukanlah kata asli bahasa Arab tetapi serapan dari bahasa Persia.

    (Thread)

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Ustaz artinya guru, atau orang yang mengajarkan ilmu tertentu. Jadi, tidak terbatas ilmu agama.

    Karena ia bukan istilah resmi, tak ada syariat yang mengatur siapa yang layak mengenakan gelar itu. Berbeda dengan imam, misalnya, yang jelas syarat-syaratnya.

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Di Indonesia dan Asia Tenggara umumnyalah ustaz kemudian menjadi sebutan bagi seseorang yang dianggap alim (menguasai ilmu agama Islam).

    Lagi-lagi sifatnya informal. Tidak ada lembaga sertifikasi atau penyahihan. Ia penghargaan dari masyarakat. Tak pas pula jika self-claim.

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Islam, khususnya Sunni, tak mengenal hierarki atau organisasi, jika yang dimaksud itu seperti paus, uskup, pastor, pendeta, atau paroki, keuskupan, dan huria dlm agama Kristen.

    Setiap muslim adalah dai, penyampai agama, karena ada hadis “Sampaikanlah walau hanya satu ayat.”

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Pola seperti ini tentu ada bagusnya dan ada pula potensi masalahnya. Dakwah dan dinamika Islam bergerak di semua lini. Dinamis.

    “Setiap orang adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawabannya,” kata Nabi.

    Masalahnya, ya, itu. Tidak ada standar baku.

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Selain karena ustaz ini bukan nomenklatur resmi Islam, syariat memang membolehkan siapa pun untuk menyampaikan dakwah.

    “Wa man ahsanu qoulan min man da’aa ilallah?” Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada mereka yang menyeru kepada Allah? QS 41:33.

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Membatasi siapa yang boleh berdakwah bertentangan dengan karakter Islam itu sendiri sebagai gerakan dakwah semesta.

    Yang menentukan siapa yang layak menjadi ustaz, yang pantas mengajarkan agama adalah audiensnya, atau umat itu sendiri.

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Jadi, rasanya tak cukup hanya mengeluhkan banyaknya orang-orang yang dianggap tak layak menjadi ustaz, atau tak pantas berceramah tentang agama.

    Tentu saja, jika sudah terindikasi pelanggaran hukum, ya biar KUHP yang bicara :)

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Cara paling efektif, ikutlah turun ke gelanggang. Ajarkan Islam yang menurutmu benar, minimal ke lingkar terdekatmu, syukur-syukur bisa merebut hati umat dalam lingkaran yang lebih besar.

    Tidak harus melalui mimbar masjid. Ada 1001 medium dakwah.

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan

    Kita pendukung kebebasan, kan? Nah, Islam sudah membuka kebebasan itu sejak dari mata airnya.

    Setiap orang adalah pemimpin. Siapa pun bisa menjadi ustaz, setidaknya bagi anak, istri, atau teman2nya di media sosial.

    Jadi, tunggu apa lagi? The stage is yours ;)

    Reply Retweet Like

    TogaMD

    Toga Nainggolan