1. Exquisite Tweets from @killthedj, @papamirza, @gsbudii, @osinoise, @sulistjogja, @ZoneVenomWar, @okta_bramantio, @raputradika, @nurfaiziachmad, @MissNurii, @stefanusd, @ar_iyaz, @aranigr, @ulnino, @dedi_setiyawan, @BudiantoG40

    snydezCollected by snydez

    Tentang beras, menurutmu ini faktor kebetulan atau memang cara berpikirku sama dengan mas @jokowi ? Apapun itu, ini persoalan mind-set dan tidak akan pernah semudah membalik tangan sebenarnya.

    Reply Retweet Like

    killthedj

    Marzuki Mohamad

    Aku orangnya bingung kalo diajak ngomong “pemberdayaan”, taunya ya investasi dan bikin pekerjaan di desa yang berdampak baik, paling tidak menurutku. Dari pada ngalor-ngidul rembugan “pemberdayaan”, mending aku beli gabah lebih mahal ke petani.

    Reply Retweet Like

    killthedj

    Marzuki Mohamad

    Kalo kita berani bayar lebih 500 rupiah saja per kilo, kali 2000 kilo gabah hasil petani, dampaknya langsung. Petani tidak perlu ngurusi akun sosmed dan desain kemasan, nanti yang menanam siapa? Malah-malah endingnya jadi suka twitwar wkwkwk

    Reply Retweet Like

    killthedj

    Marzuki Mohamad

    Aku berpikir seperti ini karena pernah gagal membuat kelompok tani muda, mungkin aku kurang istiqomah dan terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Tapi dari kegagalanku itu, ya anak-anak itu sekarang yang ngurusi investasi-ku di desa

    Reply Retweet Like

    killthedj

    Marzuki Mohamad

  2. Mas, ini berasnya sudah pre-washed kah? Jadi tinggal masukin ke Mgic Jar tambahin air saja. Gak perlu mesusi lagi.

    Reply Retweet Like

    papamirza

    Reza Maulana

  3. gsbudii

    gsbudiyono

  4. Sempet terpikir bisnis beras sachet-an mas, tapi keduluan pak buwas.. memang dunia bukan untuk yang ragu-ragu hehe

    Reply Retweet Like

    osinoise

    m̶a̶n̶d̶o̶r̶

  5. Nek bulog ora ngurusi beras meneh piye sih..dadi petani bebas ngedol beras , isa ora yoo..

    Reply Retweet Like

  6. Bikin perubahan itu gak segampang ngomong "pemberdayaan", sekedar mau membeli gabah lebih mahal ke petani saja kamu bisa disatroni preman juragan beras, untungnya aku bajingan. Dr sini kamu tau dong kenapa @jokowi musuhnya banyak? Orang di sekeliling dia saja banyak yg gak paham

    Reply Retweet Like

    killthedj

    Marzuki Mohamad

    Sebagai penutup, asal tau saja bahwa banyak media pengen meliput, tapi aku gak mau karena merasa belum berhasil. Kecuali ahensi nawarin iklan aku mau, duitnya bisa buat beli traktor. Wkwkwkwk

    Reply Retweet Like

    killthedj

    Marzuki Mohamad

  7. bisa dan arahnya harus ke sana, bulog fokus mencadangkan stok pangan dan ekspor ke LN aja ...

    Reply Retweet Like

    ZoneVenomWar

    Mas Zone

  8. mnr pandangan sya..-bsa jadi sya keliru -- indonesia ini negara agraris, tp tdk berdaulat dari sisi pertanian..

    Reply Retweet Like

  9. Dipoles bukan pemutih dan pre-washed. Tapi kalo terlalu bersih gizinya malah ilang juga kan?

    Reply Retweet Like

    killthedj

    Marzuki Mohamad

    Yang resmi belum terdaftar, makanya bisa main-main

    Reply Retweet Like

    killthedj

    Marzuki Mohamad

  10. Ya masalahnya sampean(dan jutaan anak muda Indonesia sekarang) mau nggak jadi petani?

    Ya kalo petaninya aja nggak ada, gimana mau berdaulat dari sisi pertanian?

    Reply Retweet Like

    okta_bramantio

    Okta Bramantio

  11. Apa itu syarat utama.? Jadi semua orang harus jadi petani, gak perlu ada profesi lainnya ?

    Reply Retweet Like

  12. Sekedar ikut diskusi. Ya, emang ga semua harus jadi petani, mas. Masalahnya sekarang petani muda pada gamau jadi petani, katanya ga sejahtera. Di desaku saja petani tinggal orang-orang tua, sangat jarang liat petani muda

    Reply Retweet Like

    nurfaiziachmad

    Faiz Boneo

  13. Nah..tanya kenapa ?kondisi ini sama dengan jaman tahun 90an. Jarang sekali orang yang mau jadi guru, karena gaji guru kecil sekali.Apalagi guru SD, sangat langka. Paska rezim Gus Dur, orang berebut jadi guru. Bisa gak itu tjd pada profesi petani ?

    Reply Retweet Like

  14. Pasca rezim Gus Dur itu sampai sekarang berarti ya?

    Kok temen2 saya gaada yang mau jadi guru, pada maunya jadi budak korporat? :(

    Reply Retweet Like

    okta_bramantio

    Okta Bramantio

  15. dari dulu ya konsepnya begini. makanya ada KUD. petani berkumpul, punya penggilingan sendiri. udah gak keitung berapa banyak hibah alsintan untuk pasca panen padi. mesinnya sederhana kok. tapi ya hasilnya gitu-gitu aja. cara berpikirnya udah lama ada, jalaninnya yang abot.

    Reply Retweet Like

    aranigr

    RaeAgainstTheMachine

    penyebabnya yha cem macem. mulai dari economic scale sampe tangtangan dari reman-reman pemaen lama di rantai distribusi beras yang terkadang justru tetua di kampung. jadi sungkan tuk memutus. tapi tetaplah berjuang, mz. doaqu menyertaymu. Godspeed.

    Reply Retweet Like

    aranigr

    RaeAgainstTheMachine

  16. Di benerapa lokasi di Ponorogo, bertani skrg lebih menyenangkan dr sisi sdm, bayangkan menanam pakai mesin, dan memanen memakai mesin, yg

    Reply Retweet Like

    dedi_setiyawan

    dedi setiawan

  17. Fakta yg ada di lapangan tengkulak jauh lebih kaya dari petani itu sendiri, faktor aktualisasi diri dari petani dgn didasari oleh keinginan material didukung dgn pinjaman dari tengkulak yg samgat mudah

    Reply Retweet Like

    BudiantoG40

    PeternakTradisional