1. Exquisite Tweets from @Okihita, @Nuelsitanggang, @njoppp, @tomerdian

    snydezCollected by snydez

    Guys, the admin of this account is a knowledgeable genius. I'm totally mind-blown.

    This is a three-level philosophical message.

    Buat ngerti pesan asli di gambar ini, kamu harus ngerti tiga hal:

    (1) rasanya makan Indomie,
    (2) sejarah Dr. Manhattan, sama
    (3) biosentrisme.

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

  2. Missing tweet: 994148712090816514

  3. Senior mobile app engineer here. Ini hoak dan—seperti biasa—hoak paling gampang disebar kalo basisnya ancaman/ketakutan.

    Model fonetik Indonesia itu hampir nggak bisa dianalisis, soalnya "speech corpus" bahasa Indonesia, apalagi yang colloquial (bincang santai), nggak konsisten.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Secara teknis platform, kalo sebuah app iOS lagi ngerekam suara, bakalan ada tanda merah di bagian atas layar jadi user tau kalo lagi direkam.

    Kalaupun mau nguping pembicaraan pakai Speech API, app Instagram bakal keliatan di menu Privacy > Speech Recognition di device user.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Kalo di platform Android, user harus ngaktifin permission buat akses ke mikrofon. Kalo OS-nya Android 6.0 (Marshmallow) ke atas, permission ini bisa dicabut lewat Apps > Instagram > Permissions.

    (Tapi ya nanti repot kalo, misalnya, mau bikin instastory yang butuh rekaman suara.)

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Terus kenapa ada user yang "ngerasa" kalo topik yang baru diomongin tiba-tiba muncul jadi iklan Instagram?

    Salah satu alasannya adalah "frequency illusion", fenomena psikologis bahwa, intinya, setelah belajar sebuah informasi baru, kita mulai menemukan penerapannya di mana-mana.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Misalnya, habis tau, "Manusia cuma butuh 60 mg vitamin C lho tiap harinya." seseorang akan ngecek-ngecekin tabel nutrisi dan teriak, "WAH SELAMA INI GUE DITIPU".

    Padahal yaelaaah kalo belajar nutrisi mah harusnya tau dari dulu kalo ngepasin "1000 mg" itu marketing gimmick doang.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Contoh lain adalah orang yang baru tau "rasa pedes itu ada satuannya: Scoville Heat Unit".

    Seorang yang awalnya ngukur pedes dengan:
    - agak pedes
    - pedes aja
    - pedes banget
    - pedes mampus

    bakal berubah jadi bilang, "Duh, di atas 4000 SCU gue udah mulai nggak sanggup makan dah."

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Instagram "nggak bisa analisis rekaman suara" bukan berarti dia nggak punya informasi lain tentang user selain yang user masukin ke Instagram.

    Bisa aja temen kamu yang bikin story "Ini gue lagi di toserba beli Quaker Oats habis ngobrol sama @Dia", terus jadinya kamu kena target.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Selain itu Instagram juga udah diakuisisi Facebook tahun 2012, jadi harusnya informasi preferensi seorang user Facebook (e.g. warna kesukaan, daerah liburan favorit, makanan yang lagi banyak diomongin sama temen-temennya, tanggal gajian) bakal dipake buat nentuin iklan Instagram.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

  4. Masuk akal kalo ini ternyata cuma frequency bias. Tapi jadi kepikiran satu ide: Coba kita ngomong seharian ke hape satu topik/merek yang belum pernah omongin sebelumnya. Kalo IG ads yang muncul sama yang kita omongin, mejik sih.

    Nuelsitanggang

    Immanuel Soemaryono

  5. Dalam "menebak" iklan yang cocok berdasarkan "profil user" pun, advertisers bisa keliru.

    Dua minggu ini, saya dapet iklan tiket murah gara-gara beberapa kali ngelike sama komen di foto-foto liburan orang.

    Padahal 'kan saya sendiri nggak niat liburan, cuma murni nyapa temen aja.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Balik lagi ke kemungkinan "analisis rekaman suara". Sebenernya technically bisa aja. Cuma nggak worth it.

    Kenapa?

    Orang Indon baca Nike itu "ni-ke",
    baca Mizone itu "mi-jon",
    baca Peugeot itu "pi-jet",
    baca Porsche itu "pors",
    dan baca Yves Saint Laurent itu "yowes sing leren".

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Don't take my words. Try it yourself. Bangun budaya verifikasi informasi sebelum nyebarin ke orang lain. Kalo nggak, kamu sama aja kayak orang WA yang ngeles, "Aq nga tau aq cuma share."

    Buka Instagram, ngomong seharian sama hape, cek perubahan iklannya.

    twitter.com/Nuelsitanggang…

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Mumpung banyak yang baca, saya mau menunaikan tugas sebagai Grand Indomeister dan menyebarkan Agama Indomie sebagai salah satu jalan menuju hidup namaste.

    twitter.com/Okihita/status…

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

  6. Setauku hal spt itu bisa dilihat dari history kita googling. Karena google merecord history kita dan kadang adv agency memanfaatkan platform ads by google krn dapat melihat kecenderungan interest kita dari situ.

    Reply Retweet Like

    njoppp

    who loves the sun

  7. Google (anak perusahaan Alphabet) dan Instagram (anak perusahaan Facebook) itu kompetisi buat jadi perusahaan yang paling akurat bikin profil user, jadi kemungkinan mereka saling berbagi data pelanggan itu kecil.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Berhubung rame yang nanyain tentang cara UMKM/bisnis dan advertisers nentuin target iklan Instagram, saya panjangin utasnya ya.

    Kalo ngecek di business.instagram.com/advertising , Instagram ngasih dasbor buat pelaku bisnis untuk bikin iklan sendiri. Ada empat jenis iklan yang bisa dipilih.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Habis pengiklan masuk ke dasbor iklan Instagram yang, ♫ tada~ ♬, digabung dengan dasbor iklan Facebook, pengiklan bisa bikin template iklan supaya gampang ngelacak efektifivas/jangkauan iklan (gb. 1).

    Pengiklan bisa juga menargetkan berbagai karakter audiens iklannya (gb. 2).

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Nah, sulapnya itu ada di "Penargetan Terperinci".

    Berdasar profil user sesuai dengan yang dimasukkan user ke akunnya, pengiklan akan ngotak-atik demografi yang kira-kira paling pas buat dikasih iklan. (Harus setepat mungkin biar iklannya nggak mubazir soalnya ngiklan itu mahal.)

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Jadi kalo ada suami tiba-tiba dapet iklan terkait kehamilan, belum tentu suaminya yang hamil.

    Bisa aja dia kena targeting "pria berstatus hubungan menikah" yang dikombinasikan sama "menyatakan ketertarikan terhadap kehamilan" soalnya istrinya sering cari-cari post terkait bumil.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Masih ada banyak variabel yang bisa dipake pengiklan buat nargetin pemirsa yang mau dituju. Infografik dari IZEA merangkum beberapa di antaranya.

    Jadi ya sebenernya algoritma penentuan iklan itu bukan sulap bukan sihir. Kamu aja yang parno soalnya kebanyakan nonton Black Mirror.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

  8. Saya kerja di perusahaan AdTech (Advertising Technology) statement ini ga tepat. Di digital advertising network, ada namanya ad exchange (apa tuh? Googling aja). Semua provider AdTech bisa buy/sell data inventori users masing2.

    Reply Retweet Like

    tomerdian

    Erdian Tomy

  9. Ah, iya, saya langsung nyari dan langsung ketemu artikel kalo mereka udah kerja sama buat saling tuker data sejak 2013.

    adweek.com/digital/google…

    Makasih infonya.

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

    Basis asumsi saya bahwa "perusahaan pengiklanan saling berkompetisi" adalah berita tengah 2017 kemarin bahwa Google bersaing secara tidak sehat dengan mengambil spasi iklan dari ads-network lain. (Terus baca diskusi orang adtech tentang nature bisnisnya.)

    europa.eu/rapid/press-re…

    Reply Retweet Like

    Okihita

    小雨 Edifying Raindrop

  10. Di dunia Programmatic Advertising, Demand (advertiser) & supply (publisher) bisa jual beli melalui RTB (Real Time Bidding). Yang mana konsepnya kaya auction, (demand) yang ngasih value lebih tinggi akan punya probabilitas masuk ke inventori (supply) yang relevan dgn user target.

    Reply Retweet Like

    tomerdian

    Erdian Tomy