1. Exquisite Tweets from @ChatibBasri, @JLukup, @TheMaximvs09, @mahrusali851, @albertkakiay, @dJono, @oong78781, @mnurmusa, @aris_JN, @M3L_L4, @ridtep, @Maizha4, @Adypratama_AP, @man_with_glass, @Jeffry_Joris, @galihholic_23, @Henry84Wu

    snydezCollected by snydez

    Saya banyak mendapat pertanyaan dari mahasiswa saya soal masih amankan utang kita. Tentu butuh sebuah study yg serius utk menjawab ini, tidak bisa hanya dg tweeter. Tapi sy coba ringkaskan ide nya

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Bagi mahasiswa yang ingin mempelajari lebih dalam (saya anjurkan begitu, shg tdk belajar dari tweeter), banyak literature yg tersedia. Saya ambil 2 contoh yg relevan, dari ekonom Blanchard dan study dari OECD. Ini link nya economics.virginia.edu/sites/economic… dan search.oecd.org/eco/growth/int…

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Secara intuitif, utang itu tidak bermasalah jika return yg kita peroleh dari aktifitas ekonomi yg dibiayai oleh utang lebih besar dari bunga utang yg harus kita bayar.

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Bagaimana contohnya? Saya pinjam dari bank 100, mis bunga nya 10%. Utang itu saya gunakan untuk usaha saya. Hasil dari usaha saya misalnya 15%. Maka return saya adalah 15 sedangkan bunga utang saya 10. Ini contoh utang yg produktif.

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Bila saya bicara konteks negara, maka output yg saya hasilkan adalah PDB yg diukur dg pertumbuhan ekonomi, dan bunga utang yg hrs saya bayar adalah bunga cicilan utang

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Tentu jika melihat hal itu, akan amat menyederhanakan. Kita juga harus memasukkan rasio utang thd PDB yg sudah ada dan tambahan utang yg terjadi akibat defisit primer dalam anggaran

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Mudahnya, kita hrs melihat return dari usaha kita, bunga utang, stock utang yg sudah ada dan tambahan utang yg baru (krn pendapatan kita lebih kecil dari pengeluaran)

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Secara formal hal ini bisa disampaikan spt rumus dibawah ini. Dimana dt adalah rasio utang/PDB; r adj,t adalah bunga utang yg sudah memperhitungkan pajak, gt adalah pertumbuhan PDB; Xt adalah defisit atau surplus primer dari APBN

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Jgn takut dg simbol math itu. Ekonom senang bicara dalam bahasa yg tdk dimengerti org. Semakin teknis istilahnya, semakin bingung orang, maka semakin baik dia sbg ekonom. Sy akan tweet dlm bhs manusia biasa. Rumus itu hanya utk mahasiswa yg mau mengihitung sendiri.

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Formula diatas hanya memformalkan apa yg saya bahas sebelumnya. Aman atau tdk utang tergantung dari hasil dari usaha kita, tingkat bunga utang yg hrs saya bayar, utang saya yg sudah ada dan tambahan utang baru

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Dengan gambaran itu kita melihat bagaimana kondisi utang/PDB (dinyatakan dalam simbol dt dalam formula tadi).

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Gambar dibawah ini adalah rasio utang/PDB 2005-2018 (dan proyeksi 2019). Th 2005 rasio nya mencapai 47.3%, menurun terus dan mencapai titik terendah th 2012 sebesar 23%, stabil di tahun 2013-2014 di 24-25%, lalu mulai naik dan mencapai 29% tahun 2018

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

  2. Protected tweet: 1092975085583908865
    You might be able to see it if you sign in with Twitter.

  3. Bagaimana membaca ini? Ketika rasio utang/PDB menurun itu artinya hasil dari usaha kita (PDB) lebih tinggi dari bunga utang yg hrs dibayar atau tambahan utang baru relatif kecil. Faktor utama yg bisa menjelaskan adalah pertumbuhan ek. Indonesia yg relatif tinggi

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Kita tahu sampai tahun 2013 pertumbuhan ekonomi masih mencapai 5.6%, krn boom commodity dan kebijakan pemerintah. Namun setelah harga komoditas jatuh, pertumbuhan ekonomi juga mulai melambat, konsumsi juga melambat terutama 2015. Saat yg sama defisit APBN meningkat tajam

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

  4. Memang benar, ekonomi kita, terutama ekspor, masih sangat bergantung pada komoditas spt batubara, migas, sawit, karet, dan mineral (termasuk emas, tembaga, nikel, timah, dll) yang harganya merosot sejak akhir 2013....Tahun lalu, sumbangan komoditas di atas thdp ekspor > 50%.

    Reply Retweet Like

    JLukup

    JoeLukup

  5. Defisit anggaran mencapai puncaknya tahun 2015 krn target pajak yg begitu tinggi dan tak tercapai. Namun pada tahun 2018 defisit anggaran sudah berhasil diturunkan menjadi 1.76% (bahkan lebih rendah dari defisit APBN th 2012).

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

  6. Antara lain karena perbaikan harga beberapa komoditas, terutama batubara dan migas...ada windfall...namun sawit dan karet, dua andalan kita, masih jeblok....

    Reply Retweet Like

    JLukup

    JoeLukup

  7. Defisit APBN 2018 yg menurun terjadi krn peningkatan penerimaan pajak dan PNBP krn usaha yg dilakukan pemerintah dan juga membaiknya penerimaan akibat harga barang sumber daya alam membaik

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

  8. ternyata jaman pak sby pertumbuhan ekonominya baik dan rasio utang semakin menurun pdhl banyak subsidi tapi skrg subsidi dicabut rasio utang semakin naik brrti ekonominya menurun gitu ya pak.

    Reply Retweet Like

    mahrusali851

    Moh Mahrus Ali

  9. Lalu mengapa rasio utang/PDB mulai meningkat sejak 2015? Penjelasannya bisa kembali kepada penjelasan intuisi dan formula diatas. Pertumbuhan ekonomi berkisar 5% an dan defisit anggaran yg meningkat.

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

  10. Dari 260juta rakyat Indonesia berapa persen penyumbang PDB terbesar?

    Jika cuma 1% WNI menguasai secara mayoritas, maka bangsa ini dalam bahaya !

    Reply Retweet Like

    albertkakiay

    Albert Kakiay

  11. Namun apakah ini mencemaskan? Jawabannya: Tidak. Coba lihat kembali grafik rasio utang/PDB. Rasio utang/PDB 29% memang tak serendah tahun 2009-2016, namun level 29%masih aman. Lihat tahun 1999-2008 rasio utang/PDB kita lebih tinggi dari 2018. Toh ekonomi kita baik2 saja.

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

  12. Protected tweet: 1092981187163840512
    You might be able to see it if you sign in with Twitter.

  13. Selain itu keseimbangan primer dalam APBN kita (dalam formula adalah Xt), menurun secara tajam. Artinya jika defisit keseimbangan primer menurun maka tambahan utang (Xt) mengecil. Selain itu infrastruktur yg dibangun dlm jangka menengah panjang akan menaikkan PDB

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

  14. Masih kuadran 1 pak ini :D , ping poro lan sudo wong jowo bilang. Belum ketemu cacing jejer 3..

    trims ilmunya pagi ini pak Prof :)

    Reply Retweet Like

    dJono

    abu SUMO

  15. Artinya pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Jika tambahan utang menurun (cerminan dari defisit pimer yg turun), pertumbuhan ekonomi meningkat dan tingkat bung tetap (krn Fed menahan kenaikan bunga), bisa diduga rasio utang/PDB akan kembali menurun.

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Itu sebabnya saya mengatakam bahwa utang Indonesia relatif aman krn rasio utang/PDB nya masih sekitar 29%, dan jika pemerintah menjaga keseimbangan primer dan mendorong pertumbuhan, maka rasio ini akan menurun.

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Tentu tantanganya adalah bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat. Kita tak bisa terus menerus tumbuh hanya 5%. Tahun 2060
    Indonesia akan masuk dalam aging population. Jika terus tumbuh hanya 5%, maka ada resiko kita tua sebelum kaya

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Tantangan berikutnya tentu bagaimana dg defisit primer yg menurun, bisa diharapkan multiplier efek yg tinggi. Jawabannya yg paling utama hrs diperhatikan adalah kualitas belanja. Dari setiap rupiah yg dibelanjakan hrs diperoleh hasil optimal

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

    Terakhir untuk mahasiswa saya, tweet ini menyederhanakan banyak hal, krn itu saran saya: cari referensi dari studi yg robust, serius. Lakukan perhitungan, lalu simpulkan. Utang kita masih aman, tapi bukan berarti kita tdk perlu berhati hati.

    Reply Retweet Like

    ChatibBasri

    M. Chatib Basri

  16. beban utang kita tinggi mas dede,yield 8% dibandingkan tetangga kita,pdhl inflasi udah stabil di level 3% bbrp tahun terakhir arus yield selisih 1,2% knp bs beda sampai 5% ,menkeu nya manjakan asing or gemana mas

    Reply Retweet Like

    oong78781

    michael

  17. Jika infrastruktur yang dibangun berhubungan langaung dg kegiatan produksi

    Reply Retweet Like

    mnurmusa

    mnurmusa

  18. Terima kasih pak atas apresiasinya telah menggunakan infografis saya sebagai acuan cc : @cnbcindonesia

    Reply Retweet Like

    aris_JN

    AristyaRahadianto

  19. Protected tweet: 1092995897816866816
    You might be able to see it if you sign in with Twitter.

  20. Prof, bisa dijelaskan kenapa rasio pengukuran utang harus menggunakan PDB? Kenapa tidak dengan total aset Pemerintah Pusat atau revenue pemerintah?

    Reply Retweet Like

    ridtep

    Ridwan TP

  21. Aduh pak, kalau gambar doang mah anak sd bisa, angka itu didapet dari mana ?, udah anak sekarang pinter - pinter malah di kasih kayak gitu.

    #HoaxPropagandaRusia
    #2019PrabowoSandi
    #2019PrabowoPresidenRI

    Reply Retweet Like

  22. Data ini yg digunakan sebagai acuan international untuk menilai kinerja negara kita.

    Reply Retweet Like

    Henry84Wu

    Henry Wu

  23. Missing tweet: 1093017274145898496