1. Exquisite Tweets from @winahyuanggoro

    snydezCollected by snydez

    THREAD: Apakah startup ecosystem lagi bubble, dan kemungkinan banyak perusahaan tech di Indonesia akan bangkrut?

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    BACKGROUND: gue kerja di salah satu unicorn di Southeast Asia, cukup update dengan perkembangan tech di Indo. Opini gue representasi dari personal gue dan bukan dari perusahaan tempat gue bekerja ataupun lainnya.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Intro dulu. Semuanya pasti udah tau 5 taun terakhir pesat banget pertumbuhan tech di Indo.

    Siapa yang pesan Go-Food kurang dari 24 jam yang lalu?

    Siapa yang belanja lebih dari 2x di Tokped, BL, dll dari 2 bln terakhir?

    Gue yakin banyak.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Gak cuma dari sisi pelanggan, dari sisi pekerja pun banyak “disruption” nya.

    Yang tadinya opsi karir “menggiurkan” jadi PNS, kerja di multinational atau big local company, sekarang kerja di startup tech jadi idaman!

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Gimana enggak? Benefit banyak, flexible hour, dan gaji fantastis!

    Orang bilang, bahkan banyak startup atau tech company kasih angka 20-50% melebihi market rate untuk standar experience kandidat tersebut.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Oke, itu sisi bagusnya. Apa sisi gelapnya?

    Ya, "bakar duit". Rahasia umum kalau mayoritas tech company atau startup yang growing sekarang bisa sustain karena sokongan duit investor.

    Dan itu promo 50% tiap minggu kan bukan dari daon, ya.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Ini menimbulkan banyak skeptisisme (terutama dari mereka yang background-nya lebih di industri konvensional seperti Service, Banking, etc).

    Ini apaan sih perusahaan-perusahaan rugi tapi kok promonya gila-gilaan, gajinya gila-gilaan?

    Bubble gak nih?

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Oke, buat yang gak familiar ama term "bubble", itu terminologi buat suatu asset class/industri yang valuasinya terlalu jauh melebihi fundamental value-nya.

    Misal. Tahun 2008 itu krisis karena bubble property. Penyebabnya apa? Overconfidence dan irrationality dari para investor.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Apakah overconfidence atau irrationality itu konyol? Belum tentu.

    Masih pakai contoh 2008. Pada saat itu, di US housing adalah asset yang nilainya selalu naik dari tahun ke tahun, selama puluhan tahun!

    Gimana orang gak pede? Puluhan tahun tak terbantahkan kok.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Tapi, cuman butuh satu "black swan" untuk membuktikan gak semua angsa itu putih.

    Dan itu yang terjadi di 2008. Gak bakal ada yang nyangka housing market bakal crash.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Apakah prediksi bubble itu gampang? Tidak.

    Nonton "Big Short" gak? Itu film tentang para investor yang berhasil prediksi housing crash 2008.

    Salah satu investor di situ (tokoh nyata), bikin Hedge Fund baru di sekitar tahun 2011.

    Hedge Fund-nya bangkrut.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Dengan kata lain, prediksi bubble lebih cenderung juga main ke "luck" daripada "skill".

    Itu untuk bubble ya. Tidak bisa dihindari, tidak bisa juga diprediksi dengan 100% akurat.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Kita udah bahas tech company. Udah bahas bubble. Balik lagi ke question utama.

    Apakah bakal banyak tech company Indo yang bangkrut? Apakah tech ecosystem Indonesia lagi bubble?

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Ini question terpisah. Yang pertama dulu.

    Apa faktor utama yang bisa bikin perusahaan bangkrut? CASHFLOW.

    Iya dong, selama perusahaan masih bisa running, bisa bayar gaji pegawai, bayar sewa gedung, bayar utang ke bank, gak ada yang bakal protes kan?

    Apa yang diperluin? CASH.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Cashflow itu dateng dari tiga.

    Operational. Investing. Financing.

    Operational itu kegiatan operasional perusahaan. Misal. Kalau kamu punya perusahaan jual sabun, maka tiap penjualan dari sabun itu adalah cash untuk Operational.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Investing itu terkait pembelian asset dan investasi untuk kelangsungan operasional perusahaan.

    Misal kamu bangun pabrik sabun A seharga 10M, maka itu berarti cashflow Investing mines 10M.

    Terus kamu jual pabrik B seharga 5M. Itu positif 5M.

    Totalnya? Mines 5M dong ya.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Financing, ini cashflow dari penerbitan utang atau penjualan saham.

    Misal kamu ngutang ke bank 10M buat bayar gedung 5 tahun ke depan, boleh gak? Lah boleh aja.

    Bank-nya liat 10 tahun terakhir kamu selalu tepat waktu bayar utang. Dia hepi aja. Emang bisnis dia kok.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Penjualan saham itu gimana?

    Misal kamu cetak saham baru di perusahaan sabun kamu, terus kamu jual ke investor sesuai dengan valuasi perusahaan sabun kamu sekarang.

    Ini namanya CAPITAL RAISE.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Recap dulu. Jadi ada tiga sumber ya untuk cash.

    Operating. Investing. Financing.

    Tergantung dari industri dan perusahaan-nya apa, ini bisa beda-beda.

    Ada perusahaan yang byk depend ke operational cashflow untuk dapat cash, Ini biasanya industri mature seperti Banking/FMCG.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Nah, di sisi Tech sendiri, memang banyak contohnya perusahaan itu survive karena FINANCING source tadi.

    Di luar contohnya ada Tesla. Tau gak setiap Tesla cetak dan jual mobil listrik yang keren itu, mereka RUGI?

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Kenapa? Karena jual mobil kan gak cuma cetak terus kirim aja. Ada promo. Biaya R&D. Biaya running store. Etc.

    Bisnisnya Tesla atau Elon Musk ini tahun 2017 rugi sekitar $2.2 MILYAR USD loh.

    $2.2 Milyar.

    Bisa pesen go-food ampe pensiun tuh.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Survive-nya gimana? Ya financing. Penerbitan utang atau Capital Raise.

    Inget, CASHFLOW.

    Selama cashflow aman, perusahaan tidak akan bangkrut.

    Dengan Financing, berarti, selama masih ada yang mau kasih utang atau beli sahamnya, berarti perusahaan tidak akan bangkrut!

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Apakah perusahaan tech di Indo akan banyak bangkrut?

    Tergantung.

    Ada beberapa industri, yang secara makro terlalu "menggiurkan" untuk investor gak beli sahamnya.

    Gue ambil contoh E-Commerce aja. Tau kan Amazon sempet beberapa kali nangkring jadi perusahaan #1 di dunia?

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Amazon itu penguasa terutama di US. US sendiri % online transaction sekitar 9-12% dari total retail tx.

    Di China, yang dikuasai Alibaba, % online transaction itu > 20%.

    Di Indo? 4% atau kurang. Masih banyak banget potensi naiknya.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Selama makronya ada, selama perusahaannya bisa kasih "sinyal" kalau mereka bisa pertahanin pasar mereka, maka tech company masih akan bisa pakai jalur Financing untuk survive.

    Kapan bisa pakai jalur Operation? Ya seiring dengan makronya bertumbuh.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    "Tapi kak, kalau investor skeptis ama valuasinya, jalur Financing gak bisa dipake dong?"

    Ini question kedua. Apakah sekarang valuasi tech company terlalu besar? Apakah ada kemungkinan valuasi turun?

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Ini balik lagi ke konsep BUBBLE tadi. Pasti ada kemungkinan, tapi gak bisa diprediksi kapan dan SIAPA tech company yang bakal turun paling drastis.

    Personal gue, yang paling bahaya adalah tech company yang bisnisnya "jauh" dari industri tradisional.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Commerce, atau Ride-Hailing/Service, atau Online Ticket, itu jatuhnya bisnis tradisional ya.

    Kalau gak ada internet, itu juga sudah dilakukan kan sebelumnya? Yang dilakukan oleh mereka membuat lebih mudah, lebih aman, lebih cepat aja?

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Apakah untuk para “unicorn” berarti kebal valuasi turun? Ya belum tentu juga.

    Terutama kalau mereka gak bisa compete, gak bisa pertahanin growth, possible dong ya valuasi turun atau stagnan.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    Actionable advice untuk pekerja startup:

    1. Jangan sombong mentang-mentang digaji gede. Tau gak operational cashflow growthnya perusahaan gimana? Tau gak valuation growth nya?

    Kalau gak tau, berarti sama aja nyerahin diri ke nasib kalau-kalau ada perampingan.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro

    2. Pahami bisnis perusahaan, cari tau langkah konkrit dari perusahaan untuk mencapai PEACE TIME atau SUSTAINABLE OPERATIONAL PROFIT.

    Gak bisa jelasin short term (0-12 bulan) sampai long term plan (> 5 tahun) secara rasional? Major red flag. You’re working for the wrong founder.

    Reply Retweet Like

    winahyuanggoro

    Winahyu Anggoro