1. Exquisite Tweets from @pinotski

    snydezCollected by snydez

    Berhubung banyak yg nyangka kita horang kayah yg bisa tinggal di kota gemerlap New York City, bebas pelesir sekeluarga ke sana ke mari, gue akan coba bikin thread gimana bisa lakukan semuanya tanpa finansial kuat, tapi kombinasi niat, kerja keras, dilakukan dng santai ngga ngoyo.

    Reply Retweet Like

    Sekali lagi, kami bukan dari keluarga yang finansialnya kuat. Untuk bersekolah saja, orang tua kami harus putar otak jungkir balik hingga masuk kuliah. Tapi kemampuan ortu kami menyiasati keterbatasan ini yg menginspirasi kami.

    Reply Retweet Like

    "Bahan bakar dari semuanya adalah impian. Bukan uang." pendapat ortu kami yang buat sebagian orang ngawang tidak membumi, namun menempel keras di benak kami untuk selalu berjuang mengejar mimpi kami, salah satunya: melihat dunia luar.

    Reply Retweet Like

    Dari kecil, hingga SMA bahkan kuliah, yg namanya jalan-jalan ke luar negeri itu masih sebatas angan bagi kami. Bahkan saat bekerja di Jakarta, kesempatan melihat dunia luar adalah NOL. Profesi desainer grafis ngga bakal diprioritasin utk diberangkatkan kantor utk urusan kerjaan.

    Reply Retweet Like

    Impian dan angan itu tetap kami jaga & rawat, dijadikan semangat, visi, mindset. Lalu datang tawaran kerja di Kuwait. Buat sementara orang akan bilang "Wah beruntung ya!" Kami bilang, keberuntungan itu selalu ada di sekitar kita. Tapi kita ngga pernah siap untuk melihatnya...

    Reply Retweet Like

    ... sebagai peluang, kesempatan, jalan keluar. Apakah tawaran kerja di Kuwait kami anggap keberuntungan? Bisa, tapi apakah kemudian kami langsung serta merta 'HORE AKHIRNYA BISA MELIHAT DUNIA'?

    Nope. Yang terjadi malah perasaan kami campur aduk, apa itu Kuwait?

    Reply Retweet Like

    Sebuah negara antah berantah, yang lekat dengan image perang, bekas daerah caplokan negara tetangganya. Kenapa Kuwait? Kenapa kesempatannya bukan Amerika? Inggris? Eropa? Australia? Atau bahkan tetangga Singapura?

    Reply Retweet Like

    Lalu kami berpikir, mungkin ini kesempatan kami untuk BELAJAR melihat dunia. Mungkin ini semacam kuliah tingkat dasar, melatih mental, melatih strategi, belajar lagi untuk hidup sebagai suami istri, bapak dan ibu dari 2 balita.

    Reply Retweet Like

    Finansial kami saat itu mencukupi untuk makan, sewa rumah, nyicil 5 tahun Daihatsu seharga 80 juta. Tapi nabung ekstra untuk persiapan sekolah krucil atau kebutuhan ekstra lainnya ngga mencukupi.

    Reply Retweet Like

    Kami pun berpikir, mungkin Kuwait adalah cara kami juga untuk bisa menabung karena penghasilan dng profesi yg sama di Jakarta bisa 3 kali lipat. Plus lainnya adalah 1 Kuwait DInar (saat itu) Rp 32000. Artinya, jika kami berangkat finansial kami naik level.

    Reply Retweet Like

    Hal lain yang kami harus persiapkan sebelum berangkat adalah mempersiapkan mental orang tua kami untuk belajar tentang jarak waktu & tempat. Keluarga besar akan 'terputus' dari cucu, keponakan, sepupu mereka. Maklum, keluarga kami by default bukan perantau.

    Reply Retweet Like

    3 bulan sebelum berangkat adalah perjalanan emosional yang naik turun. Ada beberapa ribu pelukan dengan keluarga sebelum berpisah. Pembelajaran mental baru dimulai.

    Begitu sampai di Kuwait, gojlokan mental makin keras. Gue berangkat duluan, belum bisa bareng @ditut & krucil.

    Reply Retweet Like

    Rasanya nyesek banget. Hidup berubah 180º, ngga ada yang kenal, suhu lagi panas-panasnya, kerja sampai pagi, sampai penginapan ngga ada sambutan krucil atau senyum istri. Gue sempet jatuh sakit karena saking kangennya. Hasrat homesick sedemikan besar sampai kepikiran utk kabur.

    Reply Retweet Like

    Tapi di antara tamparan, gojlokan, tempaan itu ada bisikan "Lho katanya mau melihat dunia? Ini kan bagian dari rencana lo?"

    yang bikin gue bangun lagi. Menyemangati untuk Skype dengan keluarga di Jakarta, dengan mata basah. Perrihhhhh 🤣

    Reply Retweet Like

    Kami pun belajar, keberuntungan itu datang dengan harga. Tidak ada yang gratis, tidak akan datang kalo kami cuma siap 25%. Keberuntungan datang ketika kami sanggup 'membayar' paling tidak 50% lebih. Ambil atau tidak, tergantung kemampuan kami utk membayar sisanya.

    Reply Retweet Like

    4 bulan kemudian kami bisa bersatu lagi. Petualangan bisa dimulai. Bagi kami, Kuwait adalah gerbang kami untuk bisa melihat dunia. Dan kami percaya anak-anak yang membukakan rejeki & kesempatan, utk orang tuanya & utk mereka sendiri.

    Reply Retweet Like

    Sesaat, kondisi finansial terasa lebih lega. Lalu krucil masuk usia sekolah & kami prioritaskan income kami utk mendaftarkan mereka di sekolah yang bagus - yang otomatis juga biayanya besar. Somehow, melebihi kapasitas finansial kami. Yang sempat lega, jadi sempit lagi.

    Reply Retweet Like

    Tapi kami tidak merasa kurang, tidak merasa sempit, tidak merasa terbatas. Karena, selalu saja ada jalan. Apalagi kalau sudah demi masa depan anak-anak, selalu saja manageable. Makin seru lagi ketika si bungsu lahiran.

    Reply Retweet Like

    30% income digunakan utk hidup sehari-hari, 60% untuk persiapan sekolah krucil, 10% untuk menabung. Lalu gimana kami bisa keluyuran ke Jordan & Turki? Karena ada tiket promo yg masuk dalam range 10% itu. Satu tiket pesawat ke dua tempat itu Rp 300 ribu bolak balik.

    Reply Retweet Like

    Kami pun menyadari, Kuwait ada di tengah-tengah utk menjelajah dunia lebih jauh. Otomatis tiket pesawat lebih bisa dihemat. Peluang lain: ngurus visa ke negara lain lebih gampang & cepet. 4-5 hari selesai.

    Reply Retweet Like

    Selama di Kuwait itu juga kami belajar membaur dengan lingkungan baru & asing. Tabiat, kultur, bahasa, perilaku, semua kami resap & cerna karena itu adalah bagian pembelajaran untuk bisa melihat dunia. Best of all, kami bisa punya jabatan baru: duta budaya dari Indonesia.

    Reply Retweet Like

    5 tahun pertama di Kuwait, kami sudah berhasil menjelajah Jordan, Istanbul - Turki & Singapura bareng krucil. Ngga ngoyo, paling ngga udah mencicipi daratan lain hanya dengan 10% dari income kami.

    Reply Retweet Like

    Lalu Vine rilis. Gue nemu celah untuk mewujudkan passion - satu kata yang dicibir banyak orang. Gue jor-joran bikin macem-macem, pamer karya iseng, serius tiap minggu bikin 5 animasi. Karena seneng aja, karena excited aja. Ngga mikir macem-macem.

    Reply Retweet Like

    Sekeluarga pun ikutan bikin-bikin juga, kolaborasi bareng. Lalu beberapa bulan kemudian ada email berisi undangan dari Twitter London.

    London? Inggris? Big Ben? Semua yang biasa kami lihat di film, buku, komik, cerita orang? Terlalu absurd.

    Reply Retweet Like

    Saking absurdnya sampai kami berdua ketawa bloon sambil nangis "Serius ini?" Sambil gemeteran gue reply emailnya, ngga mikir langsung bilang MAUK! Keberuntungan datang ketika kita siap 50%. 50% sisa yg mesti dibayar: mental bahasa inggris, mental ngurus visa negara barat, etc.

    Reply Retweet Like

    Rasa takut & excited yg gue alami 2007 silam datang lagi. Tapi kali ini udah jauh lebih siap mental. Juni 2013 gue pun akhirnya bisa menginjakkan kaki di negara barat ini. Saking ndesonya, berdiri depan Big Ben sambil berkaca-kaca berucap Alhamdulillah terus-terusan.

    Reply Retweet Like

    Waktu itu cuma gue sendiri yang berangkat ke London, tapi kami yakin sebuah pintu sudah terbuka bagi kami sekeluarga. Emang dasar rejekinya anak-anak, Desember bisa berlima ke London. Dan masih dari 10% income kami karena terbantu banyak hal termasuk dari Twitter.

    Reply Retweet Like

    Dari Vine ini kami menyadari, pintu kesempatan datang bukan dari kesiapan finansial semata, tapi lebih dari kesiapan ketrampilan. Undangan datang dari beberapa sumber, sudah termasuk tiket & penginapan. Hingga akhirnya kami ditawari kerja di NYC.

    Reply Retweet Like

    Sebuah negara yang terlalu ngawang untuk kami kunjungi. Sebuah tempat yang cuma bisa hidup di komik, film, yang cuma kami dengar dari cerita orang. Mana mungkin orang macam kami bisa ke Amerika.

    Rasa takut & excited seperti 2007 datang lagi namun dengan bumbu yg berbeda:

    Reply Retweet Like

    Kami terlalu tahu Amerika seperti apa. Kami tahu semahal apa Amerika. Kami tahu betapa kerasnya pergaulan di Amerika. Ada satu gang resiko bersembunyi di balik gemerlap American dream.

    Reply Retweet Like

    Kami berlima bergandeng tangan "Yuk disyukuri, Alhamdulillah ada kesempatan. Dan Bismillah menjalankan kesempatan itu."

    Februari 2015, kami berlima berpelukan, berjalan di tengah kota Manhattan. Tercekat, mata basah, hidung perih bersyukur dengan apa yang kami lihat.

    Reply Retweet Like