1. Exquisite Tweets from @dwikaputra

    snydezCollected by snydez

    “pitch your business idea 101”

    Good for startups, small businesses, or anyone who wants to present their ideas.

    Yep, finally, A THREAD.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Pitching itu seperti proses “nembak” sebelum berpacaran. Intinya adalah “penyelarasan”.

    Selaras dalam hal ekspektasi, terutama.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Karena yang dijual dalam pitching bukan hanya “sekarang saya sudah bisa segini”, tapi juga mimpi “kalau kita barengan, ini kemungkinan yang akan terjadi 3, 5, 10 tahun lagi”

    Pitching itu “jualan mimpi”, tapi harus disertai pijakan yang kuat pada realita.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Maka dari itu, harus disertai riset yang tepat, dan pengetahuan industri yang bagus juga.

    Contoh yang salah:
    “Semua orang makan nasi, saya jualan nasi goreng, maka toko saya pasti rame”

    Itu sama seperti cowok ngajak cewek nikah dengan alasan “kamu mau nikah, saya juga”

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Pitching itu harus “unik”. Karena belum tentu setiap ekspektasi itu sama untuk setiap kolaborasi.

    Contoh, saat pitching ke perusahaan yang memiliki portfolio kuat di bidang logistik, tentu saja kita harus dapat mengeksplorasi keuntungan unik yang bisa didapat kedua belah pihak

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Contoh lebih lengkap tidak bisa saya bahas di sini karena keterbatasan karakter.

    Analoginya, kamu menawarkan barter, akan sesuai dengan kebutuhan sang pelanggan, kan?

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Oke, sekarang kita masuk ke persiapan. Dalam beberapa buku startup, dituliskan 4 bagian penting: Who, How, Why, dan What.

    Berikut interpretasi saya dalam menyiapkan deck untuk pitching

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    1. Why.
    Saya bagi jadi 2 hal:
    - why is this important? (Problem)
    - why is this product important? (Solution)

    Pada akhirnya, Why ini yang potensinya paling besar untuk diingat setelah sebuah pitch. Makanya porsi besar saya tempatkan di sini

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    “Why is this important?”

    People are interested in real problems.
    Kenapa masalah ini perlu dipecahkan? Apa dampaknya kalau tidak dipecahkan?

    Saat masalah memang ada, itu akan menentukan sebagian besar langkah kalian ke depan.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    “Why is this product important?”

    Real problems call for real solution.
    Poin ini harus bisa menggambarkan, kenapa solusimu ini menjawab masalah tadi, dan kenapa lebih baik daripada solusi lain yang sudah tersedia.

    Kalau gagal menjawab poin ini, selesai sudah.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    2. What
    Ini salah satu yang paling “straight forward”, saatnya kamu menjelaskan produkmu.
    Be concise, be specific.
    Percuma omong panjang lebar, jelaskan dengan “bahasa customer”

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    3. How
    Saya bagi jadi dua lagi:
    - How are you going in? (Go to market strategy)
    - How are you going to spend the money? (Marketing and operational forecast)

    Bagian ini jangan sampai gagap. You’re asking for money, of course theymd want to know

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    “How are you going in?”

    Apa cara kamu meyakinkan calon pelanggan? Siapa orang yang kamu mintakan pendapat ahli? Apa message besar yang ingin kamu sampaikan?

    Be as specific as you can.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Misalnya kamu mau buat restoran sehat, minimal harus bisa begini: “Kami akan meminta pendapat ahli dari ahli gizi Y, akan ada resep kerjasama dengan chef X, dan kami bekerjasama dengan sekolah-sekolah untuk memberikan penyuluhan mengenai makanan sehat”

    Seriously, be specific

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    “How are you going to spend the money?”

    Ini penting lho. Di sini calon investor bisa men-judge, apakah kamu benar-benar mengerti dan bisa menjalankan bisnis ini.

    Kenapa? Ingat, kamu “menjual mimpi”

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Saat kamu memiliki mimpi, kamu harus mengatur ekspektasi.
    “Saya minta 200 juta”
    “Untuk apa?”
    “50 juta untuk kerjasama dengan pihak X, 75 juta untuk peralatan efisiensi produksi, 75 juta untuk gaji karyawan 3 bulan pertama”

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    “Kenapa?”
    “Karena dengan tambahan hal-hal tersebut, produksi naik 300%, value di media naik sekian, sehingga total returnnya diperkirakan sekian”

    Enak kan, jualannya?

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    4. Who
    Saya bagi jadi dua lagi:
    - who are your market? (Target market)
    - who are you? (Founding team)

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    “who are your market?”

    Jelas, kamu harus bisa tau market kamu siapa. Dari situ bisa diukur market size nya, bisa juga diketahui potensi ke depannya seperti apa.

    Semakin spesifik, semakin bagus. Ini juga akan menentukan go to market strategy kamu.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Contoh:
    Kalau kamu menargetkan jualan untuk orang-orang kantor, kamu bisa memilih approach “buka di jam pulang kantor” atau “buka di jam kantor” supaya mereka bisa titip beli, misalnya via ojek online.
    Influencer yang kamu ajak kerjasama juga berbeda. Jenis wording juga beda.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    “Who are you?”

    Bagian yang penting tapi sering dilupakan atau disepelekan.

    Kenapa kamu dan tim kamu orang yang tepat untuk pekerjaan ini?

    Misalnya, mau buka usaha kuliner. Apakah kamu punya latar belakang kuliner? Pernah buka usaha sejenis sebelumnya? Atau apa

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Meskipun tidak 100% benar, tapi umumnya kamu akan lebih mempercayai seorang arsitek dalam membuat desain rumah, daripada seorang koki.

    Karena saat menginvestasi, orang ingin membeli pengalamanmu sekaligus, bukan hanya produk.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Itu dulu untuk masalah konten. Sebenarnya banyak sekali pembahasan yang bisa dilakukan, tapi kan cuma “pengantar”, poin-poin esensial dulu saja. :D

    Oiya, itu nggak harus urutannya seperti itu ya, tapi itu poin-poin yang sebaiknya dijawab.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Berikutnya, untuk pitchingnya sendiri.
    Ada “PR” yang harus dikerjakan sebelum presentasi, di antaranya:
    - ketahui audiens
    - sesuaikan deck
    - latih presentasi

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Ketahui audiens.

    Apakah mereka lebih suka berbahasa Inggris atau Indonesia? Apakah mereka mencari “quick profit” atau “impact”? Apakah mereka punya portfolio sejenis sebelumnya?

    Masukkan poin-poin yang sesuai, agar presentasimu efektif

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Sesuaikan deck.

    Idealnya, kamu punya waktu 30-40 menit untuk presentasi dari awal sampai akhir. Tapi kamu juga harus siap dengan deck yang lebih pendek. Biasanya, saya sarankan utk siapkan versi panjang, versi 10 menit, dan versi 3 menit.

    Ini baru salah satu faktor

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Selain itu kamu juga sebaiknya menyesuaikan jenis tulisan, data yang disertakan, dst.

    Ingat, setiap pitch itu unik dan spesifik. Deck kamu pun sebaiknya seperti itu.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Latih presentasi.

    Ini jangan sampai ketinggalan. Latihan, sesuaikan durasi, jangan sampai salah sebut kata dan data.

    Presentasi yang tidak selesai, pasti tidak akan meninggalkan kesan baik.

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Terakhir, saat presentasi, bagian yang paling sering terlewat adalah BE ENTHUSIAST. Kamu sedang ingin menjelaskan produkmu kepada orang yang mungkin menjadi partnermu. Kalau kamu sendiri tidak yakin, bagaimana kamu bisa membuat mereka yakin?

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra

    Saya rasa itu sebagian kecil yang bisa saya bagikan sekarang. Siapa tahu kita bisa bertemu di kelas yang lebih panjang dan komprehensif, I’ll be more than happy to share it with you. :)

    Reply Retweet Like

    dwikaputra

    Dwika Putra