1. Exquisite Tweets from @sefkelik, @winnerindi

    snydezCollected by snydez

    Terpikir untuk bikin utas ulasan tentang sepenggal sejarah Jawa dengan judul kurang lebih:

    "MAHARAJA UNDERRATED".

    Tapi, untuk besok saja sih .

    Omong-omong ada yang bisa nebak, saya mau ngebahas siapa tepatnya?

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Pertanyaan tentang "MAHARAJA UNDERRATED" sudah berumur belasan jam.

    Namun, tak ada tebakan yang tepat sejauh ini.
    He3x...

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Bahwa sampai sekarang pun ga ada tebakan tepat tentang "MAHARAJA UNDERRATED" yang mau saya bahas, itu menandakan
    ...
    tokoh
    tersebut
    memang
    UNDERRATED.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Baiklah, setelah 41 jam tak juga tertebak siapa yang saya maksud sebagai Sans Maharaja Underrated, saya akan ungkapan jatidiri yang bersangkutan melalui utas berikut ini.

    🙃

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    MAHARAJA (PALING) UNDERRATED

    Ia naik takhta sebagai maharaja pada penghujung abad IX Masehi. Tepatnya pada 898.

    Dari semua orang yang pernah berkuasa di Pulau Jawa. Dia lah yang pertama-tama benar-benar memerintah atas Jawa Tengah & Jawa Timur.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Mampu menjalankan penguasaan serta pemerintahan atas Jawa Tengah—setidaknya separo sebelah timur—& Jawa Timur—setidaknya separo sebelah barat—pada akhir abad IX-awal abad X menjadi alasan mengapa ia penting dalam sejarah Jawa. Sedihnya, ia tak byk dibahas di buku ajar sekolah.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Alhasil, tak seperti tokoh-tokoh penting lain dalam sejarah Jawa seperti Gajah Mada, Jayabaya, Airlangga, Sultan Agung, atau bahkan yang kehistorisannya masih debatable seperti Brawijaya & Raden Patah, tokoh maharaja dr abad X ini tidak dikenang orang dengan sepantasnya.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

  2. Sependek yang saya tahu, tak ada universitas/perguruan tinggi gede yang memakai namanya.
    Tak ada juga namanya disematkan sebagai nama stadion, kapal perang, kesatuan militer, atau bahkan jalan protokol.

    Sang maharaja yang memerintah Jawa 898-912 adalah Balitung.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Balitung yang menjadi maharaja Medang selama 14 tahun memiliki gelar abhiseka: Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dhamodaya Mahasambu.

    Bahwa di dalam abhiseka-nya memuat 'Rakai Watukura', itu menandakan ia sebelumnya memiliki tanah jabatan di Purworejo.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Itu karena Watukura merupakan nama kuno dari Kabupaten Purworejo, lebih kuno dari Bagelen maupun Kedung Kebo.
    Sampai sekarang pun ada daerah dng toponimi Watukura di Purworejo.
    Watukura juga nama kuno Sungai Bogowonto.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Tak menutup kemungkinan bahwa selama menjabat sebagai maharaja Medang, ia memerintah dengan tetap berkediaman di istananya di Watukura. Menjadikan Watukura scr de facto sebagai ibukota Medang. Ya zaman Medang dulu itu soal penempatan ibukota agaknya memang semacam nomaden.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Istana maharaja maupun ibukota ya sangat mungkin tidak menetap permanen untuk jangka lama seperti pada negara-negara modern, melainkan berpindah menyesuaikan kediaman serta tanah lungguh asli pejabat pengampunya.
    Jadi inget arisan keluarga besar ga sih?
    He3x

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Jeda dulu ya. Saya mau ke perpus daerah cari sesuatu.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Mari lanjut, Balitung berdasarkan abhiseka-nya sebenarnya lebih layak disebut Maharaja Sri Dharmodaya Mahasambu.
    Bahwa tadi saya menyebut Balitung berhasil merajai sebagian besar Jawa bag tengah & timur adalah terutama didasarkan kpd sebaran prasasti2 yg dikeluarkannya.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Sepanjang masa pemerintahannya, Balitung mengeluarkan 45 prasasti. Itu artinya hampir 4 prasasti saban tahun. Prasasti2 tsb adalah dokumentasi betapa sibuknya pemerintahan era Balitung dijalankan.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Sebagaimana prasasti2 para maharaja Jawa Kuno sebelum & setelah dirinya, prasasti2 yang dikeluarkan Balitung memang juga berisikan penganugerahan sima, status desa otonom yg dibebaskan dr kewajiban menyetor pajak.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Namun, hal menarik & unggul dr prasasti2 yg dikeluarkan Balitung dibandingkan para maharaja sebelum dirinya maupun setelah dirinya adalah soal persebarannya. Dia bukan cuma maharaja Jawa yg paling banyak mengeluarkan prasasti, tapi...

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    ... adalah maharaja Jawa yang berkedudukan di Jawa bagian tengah, tapi dalam hal mengeluarkan prasasti di Jawa bagian timur tercatat pula sebagai pemegang rekor terbanyak.
    Sepanjang masa pemerintahan Balitung, ada sebanyak 7 prasasti yang dikeluarkan di Jawa bagian timur.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    7 prasasti Balitung di Jawa bagian timur adalah:
    ▶️Panampihan di lereng Gunung Wilis, 899
    ▶️Taji di Ponorogo, 8
    ▶️Ketanen di Surabaya, 904
    ▶️Kubu-kubu 905
    ▶️Kinewu di Blitar, 907
    ▶️Kaladi di lereng Gunung Penanggungan, 909
    ▶️Tulangan di Mojokerto, 910

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Tadi telah disebutkan bahwa prasasti—termasuk prasasti2 Balitung—umumnya berisi penganugerahan status sima alias pembebasan pajak, tp dng 45 prasasti spjg menjabat dng 7 darinya ada di Jawa Timur, itu sesungguhnya menyiratkan luasnya cakupan administrasi pemerintahan Balitung...

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    ... dalam mengurusi rakyat ke desa-desa yg jauh dari pusat pemerintahan di Jawa Tengah. Itu sejatinya menyiratkan suatu sistem pemungutan pajak/upeti yang mampu berjalan di Jawa Tengah maupun Timur. Padahal, ini adalah Jawa pada 11 abad silam, masih byk miliki hutan belantara.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Perlu diingat juga, dalam konteks abad X Masehi itu, dengan pusat peradaban Jawa terkonsentrasi di Jawa Tengah, tepatnya di seputaran Dataran Prambanan & Kedu, antara lain ditandai oleh aneka bangunan candi megah menjulang, Jawa Timur scr umum masihlah kawasan periferi.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Perbandingan Jawa Tengah & Jawa Timur pd abad X itu ±mirip perbandingan Indonesia bagian barat & Indonesia bagian timur pada abad XX & awal XXI ini. Yang pertama sdh sampai bertabur monumen, yang kedua masih kurang tersentuh pembangunan.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Nah, dari semua maharaja Jawa Kuno, khususnya para maharaja Medang, Balitung inilah yang pertama-tama menjalankan tata pemerintahan yang mencoba merata ke seluruh wilayah, tidak lagi sekadar Jawa Tengah Sentris.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Sebagai seorang maharaja yang sebenarnya adalah administrator mumpuni, tapi jarang diulas mendalam, itu antara lain karena Balitung sejauh ini tidak benar-benar tercatat sebagai sosok pemenang peperangan seperti Airlangga, Jayabaya, Sri Rajasa, atau Dyah Wijaya.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Padahal sejarah ala Indonesia itu kan sejarah yang suka mengagungkan jagoan pemenang perang. Ya kan? 😁

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Apesnya lagi Balitung sebagai seorang tokoh dalam sejarah Indonesia, ia bukan juga sosok maharaja yang benar-benar tertarik membangun monumen-monumen megah. Masa pemerintahannya tak menghasilkan komplek2 candi raksasa seperti Borobudur, Prambanan, dan Sewu.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Sejauh ini, candi terbesar yg dpt diidentifikasi sbg warisan daei masa pemerintahan Balitung ya cuma Sojiwan. Candi yang tak seberapa besar di Dataran Prambanan. Dengan candi-candi yg mendekati seukuran seperti Kalasan & Plaosan pun, pesonanya kalah.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Kompleks Candi Sojiwan kurang lebihnya ya sesederhana ini:

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Balitung tampaknya maharaja yang memandang membangun candi-candi (terlalu) megah sebagai pemborosan sumber daya.
    Dalam hal ini, ia seolah menjadi contoh panutan para maharaja Jawa Kuno lain sesudah dirinya. Pasalnya, sejak era Balitung memang tak ada lagi maharaja Jawa yang...

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    ... membangun candi-candi semegah candi-candi peninggalan para maharaja Wangsa Sailendra sebelum Balitung. Kahuripan, Jenggala, Panjalu-Kadiri, Tumapel-Singhasari, hingga Majapahit tiada yg membangun candi-candi semegah Borobudur, Prambanan, atau Sewu.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Dari lempeng-lempeng tembaga Prasasti Telang 903 M yang saat ini tersimpan di Pura Mangkunegaran, Solo, terlihat bahwa Balitung memiliki orientasi baru dibandingkan para maharaja pendahulunya, yakni membangun apa yg dlm istilah sekarang dinamakan 'infrastruktur'.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Di dalam lempeng Prasasti Telang—temuan dari desa di bagian hulu Bengawan Solo yang sekarang telah tenggelam menjadi genangan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri—diceritakan Balitung titahkan pembangunan tambangan (pelabuhan penyeberangan sungai besar) yg dilengkapi sjmlh kuil pemujaan.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik

    Isi Prasasti Telang menyiratkan adanya ikhtiar Balitung untuk membuat Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi terhubung secara lebih lancar.

    Reply Retweet Like

    sefkelik

    yosef kelik